SUMBER PENGETAHUAN TENTANG BELAJAR – PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Terus sumber pengetahuan tentang belajar Margaret E. Bell Gredler (1991: 3) mengemukakan bahwa setidaknya ada tiga sumber ilmu tentang belajar,
yaitu (a) pengalaman empiris, (b) filsafat, (c) penelitian
.

1. Pengalaman Empiris
Pengalaman empiris adalah peribahasa atau pepatah yang sering kali bersumber dari pengalaman yang luas, misalnya mengajar adalah tipuan dan dilakukan secara profesional. Inilah tugas utama seorang guru. Guru memiliki peluang besar untuk belajar dari pengalaman mengajar mereka di lapangan daripada belajar dari bberbagai penelitian atau pendekatan psikologis.

Penggolongan filsafat menjadi sumber belajar dimulai dengan sifat materi yang lebih didasarkan pada pemikiran radikal. Pemikiran filosofis ini tentunya dapat berimplikasi pada perkembangan teori belajar. Apalagi saat ini berbagai jenis ilmu pengetahuan berkembang. Dimayati (1994: 32) menyatakan bahwa ada Enam jenis bahan ilmiah dikembangkan, antara lain: (1) ide abstrak, (2) objek fisik, (3) tubuh hidup, (4) fenomena spiritual, (5) peristiwa sosial dan proses tanda. Keenam jenis materi ilmu tersebut berkembang dalam berbagai cabang ilmu, cabang ilmu, bahkan ribuan cabang ilmu.


SUMBER PENGETAHUAN TENTANG PEMBELAJARAN

Filsafat adalah sistem kepercayaan yang didasarkan pada pertimbangan akal dan logika. Filsafat memberikan penjelasan tentang pengembangan pengetahuan tentang peran manusia dalam masyarakat, proses kerja pikiran, dan sifat pengetahuan.
Peran filsafat dalam perkembangan pembelajaran semakin dirasakan dewasa ini. Hal ini terlihat dengan munculnya teknologi pembelajaran yang merupakan penerapan ilmu perilaku dengan ilmu fisika dan disiplin ilmu lainnya dalam mengembangkan berbagai sumber belajar guna mendapatkan solusi permasalahan belajar.
3. Penelitian Empiris
Penelitian empiris adalah penyelidikan sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis dari proposisi hipotetis tentang hubungan yang seharusnya antara fenomena ilmiah (Ardhana, 1987: 3) berbeda dari kebijaksanaan dan filsafat tradisional. Penelitian empiris memiliki tiga ciri utama, yaitu: penelitian yang sistematis dan terkendali, mendasarkan cara kerjanya pada metode induktif dan deduktif.
Penelitian empiris, artinya dalam menilai validitas, penelitian beralih ke pengalaman. PSelf-correcting research, artinya metode ilmiah tidak hanya membangun mekanisme untuk melindungi peneliti dari kemungkinan melakukan kesalahan, sejauh yang dapat dilakukan manusia, tetapi prosedur dan hasilnya selalu terbuka untuk diperiksa oleh orang lain.
Penelitian empiris adalah penyelidikan yang sistematis, terkontrol secara empiris dan kritis dari proposisi hipotetis tentang hubungan yang seharusnya antara fenomena ilmiah.
Selain ketiga sumber pengetahuan tersebut, teori juga dapat dikelompokkan sebagai sumber ilmu. Dalam pengertian umum, teori adalah seperangkat prinsip yang tersusun dari peristiwa-peristiwa tertentu di dunia nyata. Fitur penting dari teori ini adalah bahwa ia “membebaskan temuan penelitian individu dari realitas temporal waktu dan tempat untuk digantikan oleh dunia yang lebih besar.
Secara khusus, teori memberikan dua keunggulan dibandingkan sumber pengetahuan lainnya. Yang pertama adalah bahwa prinsip, tidak seperti pepatah, dapat diuji. Eksperimen dapat dilakukan untuk menentukan apakah prinsip tersebut sesuai dengan kenyataan. Contoh prinsip adalah “latihan disertai umpan balik korektif pada kinerja memfasilitasi pembelajaran untuk menguasai keterampilan motorik”. Salah satu cara untuk menguji prinsip ini adalah dengan membandingkan kinerja siswa yang diajar dengan cara lain.
Keuntungan kedua dari teori adalah bahwa tidak seperti pengamatan independen, teori berisi generalisasi tentang fenomena dan dengan demikian dapat diterapkan pada sejumlah situasi. Pernyataan di atas tentang hubungan antara belajar keterampilan motorik dan latihan dengan umpan balik adalah generalisasi yang berlaku untuk keterampilan sederhana, seperti keseimbangan berdiri di atas batang kayu, dan keterampilan kompleks, seperti bermain tenis atau anggar.
Menurut Patrick Suppes (1974) yang dikutip oleh Margaret E. Bell Gredler (1991:6), ada empat fungsi umum teori. Fungsi ini juga berlaku untuk teori belajar. Dua fungsi yang telah disebutkan adalah bahwa teori (1) berfungsi sebagai kerangka kerja untuk melakukan penelitian, dan (2) menyediakan kerangka kerja untuk mengatur item informasi tertentu. Teori juga sering (3) mengungkapkan kompleksitas peristiwa yang tampaknya sederhana, dan (4) menata ulang pengalaman sebelumnya.
1. Kerangka Penelitian
Pentingnya teori sebagai kerangka kerja penelitian adalah untuk mencegah praktik pengumpulan data yang tidak berkontribusi pada pemahaman peristiwa. Empirisisme polos, menurut Suppes (1974) adalah bentuk coretan mental dan ketelanjangan tubuh jauh lebih menarik daripada ketelanjangan pikiran (Margaret E. Bell Gredler 1991:6).
2. Organisasi Pengetahuan
Fungsi kedua teori adalah menyediakan kerangka kerja untuk mengatur item informasi tertentu. Tentu saja, semua teori waktu belajar ini memenuhi fungsi ini. Salah satu contohnya adalah kumpulan kondisi belajar yang dikembangkan oleh Robert Gagne (1970). Penelitian sebelumnya tentang unsur-unsur pembelajaran telah menunjukkan bahwa beberapa tugas dipelajari ketika orang telah membentuk asosiasi antara rangsangan (stimulus) yang disajikan dan tanggapan tertentu (respon). Namun, penelitian lain menunjukkan bahwa pembelajaran terjadi ketika pelajar pertama kali mengenali situasi stimulus dan kemudian menerapkan strategi tertentu yang sesuai untuk situasi itu. Pandangan teoretis yang dirumuskan oleh Gagne memberikan sintesis dari temuan-temuan yang kontradiktif ini. Dia mengemukakan pandangan bahwa ada lebih dari satu jenis pembelajaran. Pembelajaran tentang huruf abjad merupakan jenis pembelajaran yang membutuhkan pembentukan asosiasi antara setiap huruf dan respon mental atau respon verbal siswa. Di sisi lain, belajar untuk memecahkan persamaan aljabar adalah jenis lain dari pembelajaran. Pembelajaran memecahkan masalah menuntut siswa untuk terbiasa dengan situasi yang disajikan dan menerapkan beberapa pertanyaan dengan benar dan dalam urutan yang benar. Jenis pembelajaran sebelumnya disebut informasi verbal, sedangkan pembelajaran selanjutnya disebut keterampilan intelektual (Gagne dalam Margaret E. Bell Gredler 1991:7).
3. Identifikasi Peristiwa Kompleks
Fungsi umum ketiga adalah bahwa teori sering mengungkapkan seluk-beluk dan kompleksitas peristiwa yang tampaknya sederhana. Contoh khusus adalah sifat dan jenis faktor yang mempengaruhi pembelajaran dari model (Bandura, 1971). Sebagian besar, penjelasan yang diberikan hanya sebatas peniruan. Artinya, siswa meniru model dan diberi penghargaan atas perilakunya. Namun, teori pembelajaran sosial dan Bandura (1) mengenali situasi di mana pengamat menunjukkan perilaku yang dimodelkan beberapa hari dan minggu kemudian, dan (2) mengidentifikasi kondisi pembelajaran untuk fenomena ini. Peristiwa yang relatif sederhana yaitu peniruan ternyata bersifat kompleks dan berimplikasi pada pembelajaran dan pembelajaran.
Lebih umum, pemeriksaan teori yang ada pada saat itu mengungkapkan bahwa berbagai faktor berkontribusi pada apa yang dulu dianggap sebagai proses yang agak sederhana (yaitu, belajar). Di kelas, tingkat perkembangan siswa, sifat sifat tugas yang dipelajari, model yang diamati siswa; sifat tugas yang sedang dipelajari; model yang diamati siswa; kemampuan siswa untuk menerima, mengkodekan, dan menyimpan apa yang dipelajari dalam memori; dan persepsi siswa tentang apa yang sedang dilakukan dalam hal keberhasilan dan kegagalan adalah pengaruh penting.
4. Menata Ulang Pengalaman Masa Lalu
Fungsi teori yang keempat dan terkait adalah bahwa teori mengatur pengalaman sebelumnya (Suppes, 1974). Contoh dalam fisika yang mengatur keyakinan intuitif adalah hukum kelembaman: sebuah benda akan terus bergerak sesuai arah gerakannya sampai ada gaya eksternal yang bekerja padanya. Namun, kepercayaan yang diterima secara umum yang berasal dari Aristoteles justru sebaliknya. Analisisnya menggambarkan suatu objek dalam keadaan bergerak hanya ketika dikenai gaya. Dengan demikian, penemuan hukum inersia membutuhkan kebutuhan untuk merestrukturisasi keyakinan akal sehat (Suppes dalam Margaret E. Bell Gredler 1991: 8)
Fungsi merekonstruksi keyakinan lama sangat penting berkaitan dengan pembelajaran di kelas. Pembelajaran seperti itu terjadi dalam konteks sosial. Terkadang variabel-variabel yang awalnya sedikit berpengaruh dalam satu dekade terakhir dapat menjadi faktor penting dalam pengelolaan pembelajaran. Misalnya, pada awal abad kedua puluh banyak siswa tidak melanjutkan pendidikan mereka di luar sekolah dasar. Pengaruh persepsi siswa terhadap keberhasilan dan kegagalan akademik menjadi perhatian besar bagi sistem pendidikan. Pada saat itu banyak dari populasi siswa berbakat sedang menyaring diri dari sistem masuk ke dunia kerja. Namun, saat ini siswa diharapkan untuk mengambil mata pelajaran akademik dalam pengaturan struktur pendidikan formal selama 10 sampai 12 tahun formatif mereka. Keyakinan siswa tentang keberhasilan dan kegagalan mereka mempengaruhi pembelajaran mereka. Masalah ini diangkat oleh teori motivasi Benard Weiner, yang disebut teori atribusi.
Ardha, Wayan. 1987. Bacaan Pilihan Dalam Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
mati. dkk. 1994. Belajar dan Belajar. Jakarta : Rineka Cipta
Gagne, RM (1970) Pembelajaran konsep DI Clarizio, HF, Craig, RC & Mehrens WA (Eds.) Isu Kontemporer dalam Psikologi Pendidikan 230-237 Boston: Allyn & Bacon
Margaret E. Bell Gredler. 1991. Belajar dan BelajarJakarta: Rajawali
READ ALSO :   PENGERTIAN, FUNGSI, TUJUAN, PRINSIP, PRINSIP BK (JAMINAN DAN KONSELING)

Tinggalkan komentar