SEJARAH KELAHIRAN KEBANGKITAN NASIONAL 1908 DAN Sumpah Pemuda

B. Pentingnya Budi Utomo dalam Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia

Kegagalan perjuangan putra putri daerah telah mengilhami pemikiran-pemikiran baru dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui jalur non fisik yang dirintis oleh Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Ide dasar Budi Utomo adalah untuk memajukan bangsa dan menumbuhkan semangat nasionalisme melalui pendidikan agar bangsa Indonesia mampu menjaga negara. mandiri dengan sendirinya. Ide-ide Budi Utomo semakin menginspirasi dan mendorong lahirnya berbagai organisasi politik seperti Sarikat Islam, NU, Muhammadiyah, PNI, Parkindo dan sebagainya. Perjuangan baru/non fisik yang digagas Budi Utomo ini kemudian dikenang dan diabadikan sebagai Angkatan 08 atau Angkatan Perintis yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Semangat kebangsaan ini dibangun dan dikobarkan oleh putra-putri bangsa Indonesia, khususnya kalangan terpelajar. Orang-orang ini mulai menyadari bahwa bangsanya adalah bangsa terjajah yang harus memperjuangkan kemerdekaan jika ingin menjadi bangsa yang merdeka dan setara dengan bangsa lain. Mereka berasal dari berbagai daerah dan suku yang merasakan satu nasib dan penderitaan sehingga ingin bersatu untuk bersatu padu.

C. Tokoh Kebangkitan Bangsa dalam Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia

Wahidin Sudirohusodo adalah sosok yang mencetuskan gagasan kelahiran Budi Utomo pada tahun 1908. Ia lahir pada 7 Januari 1852 di Mlati, Sleman, Yogyakarta dan meninggal pada 26 Mei 1917 dan dimakamkan di Mlati, Sleman, Yogyakarta . Semasa hidupnya, pada tahun 1895 bersama rekan-rekannya mendirikan surat kabar dwibahasa (Jawa dan Melayu) Retno Dumilah di Yogyakarta. Dari tahun 1906 hingga 1907, ia aktif bepergian untuk mengumpulkan Studiefonds (Dana Pendidikan) untuk penduduk asli. Setelah bertemu dengan Sutomo, ide mereka diaktualisasikan dengan berdirinya organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Organisasi ini akhirnya menjadi pelopor kebangkitan kesadaran nasional sehingga setiap tanggal 20 Mei diperingati sebagai hari kebangkitan nasional hingga sekarang. . Wahidin Sudirohusodo menikah dengan seorang wanita Betawi bernama Anna. Dari pernikahan ini lahirlah dua orang anak. Salah satunya bernama Abdullah Subroto, yang kemudian menurunkan Sujono Abdullah dan Basuki Abdullah (keduanya pelukis).
Akibat politik etis yang mencakup upaya memajukan pengajaran, pada dekade pertama abad XX, anak-anak Indonesia masih mengalami kendala kekurangan dana belajar. Situasi seperti itu menimbulkan kekhawatiran bagi dr. Wahidin Sudirohusodo untuk dapat mengumpulkan dana tersebut, pada tahun 1906-1907 ia melakukan dakwah keliling Jawa. Perjalanan keliling Jawa ini dilakukan dalam rangka mendorong perlunya perluasan pengajaran sebagai salah satu langkah untuk memajukan kehidupan masyarakat. Usulannya itu dapat terwujud tidak hanya tergantung pada pemerintah Hindia Belanda, tetapi juga dapat terwujud jika pihak Indonesia juga mau berbuat sendiri dengan mendirikan yayasan-yayasan atau dana kemahasiswaan, yang hasilnya akan digunakan untuk membantu para mahasiswa yang sedang belajar. cerdas tetapi kurang mampu dalam hal biaya. Dalam perjalanan kelilingnya, ia akhirnya tiba di Jakarta pada tahun 1907 dan bertemu dengan murid-murid Stovia (Sekolah Dokter Pribumi). Di situlah Wahidin bertemu dengan pemuda Sutomo dan membicarakan nasib masyarakat yang masih kurang mendapat perhatian di bidang pendidikan. Sejak saat itu, Sutomo tampaknya telah mengembangkan pemikiran untuk melanjutkan cita-cita Wahidin Sudirohusodo. Dari sinilah muncul ide untuk mendirikan organisasi.

Dr. Wahidin Sudirohusodo adalah salah satu pelopor pergerakan nasional, pendiri organisasi Boedi Utomo dan sosok yang menginspirasi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Gagasan penting yang menjadi ciri perjuangan gerakan nasional adalah menginisiasi organisasi yang bertujuan memajukan pendidikan dan mengangkat harkat dan martabat bangsa. Diantaranya beliau juga mengemukakan gagasan strategi perjuangan kemerdekaan yaitu dengan mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui pendidikan, mengabdikan ilmunya sebagai dokter yang memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat serta memperluas pendidikan dan pengajaran serta membina bangsa. kesadaran.

Dokter Sutomo yang awalnya bernama Subroto dan kemudian berganti nama menjadi Sutomo, lahir di desa Ngepeh, Jawa Timur, pada 30 Juli 1888. Selama belajar di Stovia (Sekolah Dokter) ia sering bertukar pikiran dengan mahasiswa lain tentang penderitaan. rakyat akibat penjajahan Belanda. Terkesan oleh dr. Wahidin untuk memajukan pendidikan sebagai jalan membebaskan bangsa dari penjajahan, pada tanggal 20 Mei 1908 mahasiswa STOVIA mendirikan Budi Utomo, organisasi modern pertama yang lahir di Indonesia. Sutomo diangkat sebagai ketua. Tujuan dari organisasi ini adalah untuk mempromosikan pengajaran dan budaya.
Setelah lulus dari Stovia pada tahun 1911, Sutomo menjabat sebagai dokter, pertama di Semarang, setelah itu dipindahkan ke Tuban. Dari Tuban dipindahkan ke Lubuk Pakam (Sumatera Timur) dan akhirnya ke Malang. Saat bertugas di Malang, ia memberantas penyakit pes yang melanda wilayah Magetan. Sering berpindah tempat ternyata membawa manfaat. Dia semakin sadar akan penderitaan rakyat dan bisa langsung membantu mereka. Sebagai dokter, Sutomo tidak mematok tarif. Terkadang pasien dibebaskan dari pembayaran.
Kesempatan memperdalam ilmu di Belanda diperoleh dr. Sutomo pada tahun 1919. Sekembalinya ke tanah air, ia melihat kelemahan Budi Utomo. Saat itu, ada banyak partai politik. Karena itu, ia berusaha agar Budi Utomo terjun ke dunia politik dan keanggotaannya terbuka untuk semua orang.
Pada tahun 1924 Sutomo mendirikan Indonesische Study Club (ISC) yang merupakan wadah bagi kaum terpelajar Indonesia. ISC berhasil mendirikan sekolah tenun, bank kredit, koperasi, dan sebagainya. Pada tahun 1931 ISC berubah nama menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa Indonesia (PBI). Di bawah kepemimpinan Sutomo PBI berkembang pesat. Sementara itu, tekanan dari pemerintah Belanda terhadap pergerakan nasional semakin berat. Oleh karena itu, pada bulan Desember 1935 Budi Utomo dan PBI digabung menjadi satu dengan nama Partai Indonesia Raya (Parindra). Sutomo diangkat sebagai ketua. Parindra berjuang untuk mencapai Indonesia merdeka.

Selain bekerja di bidang politik dan kedokteran, dr. Sutomo juga aktif di bidang jurnalistik dan memimpin beberapa surat kabar. Ia meninggal di Surabaya pada tanggal 30 Mei 1938 dan dimakamkan di sana. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 657 Tahun 1961, pada tanggal 27 Desember 1961 diangkat sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

3. Dr. Cipto Mangunkusumo
Cipto Mangunkusumo lahir di Desa Pecagakan, Jepara. Ia adalah putra sulung Mangunkusumo, seorang priyayi rendahan dalam struktur masyarakat Jawa yang berprofesi sebagai guru. Meski demikian, Mangunkusumo berhasil menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang tinggi. Selama kuliah di STOVIA, Cipto dinilai sebagai pribadi yang jujur, berpikiran tajam, dan rajin. Para guru menjuluki Cipto sebagai “een begaald leerling” atau siswa yang berbakat. Cipto pun tegas menunjukkan sikapnya. Ia membuat tulisan-tulisan pedas yang mengkritik Belanda di harian De lokomotif dan Bataviaasch Nieuwsblad sejak 1907. Setelah lulus dari STOVIA, ia bekerja sebagai dokter pemerintah kolonial Belanda yang ditugaskan di Demak. Sikapnya yang tetap kritis melalui berbagai tulisan membuatnya kehilangan pekerjaannya.
Cipto Mangunkusumo menyambut baik kehadiran Budi Utomo sebagai bentuk kesadaran pribumi terhadap dirinya. Ia menginginkan Budi Utomo sebagai organisasi politik yang harus berjalan secara demokratis dan terbuka bagi seluruh rakyat Indonesia. Inilah yang membedakan dirinya dengan pengurus Budi Utomo lainnya. Cipto Mangunkusumo kemudian mengundurkan diri dan membuka praktek kedokteran di Solo, ia juga mendirikan RA Kartini Club yang bertujuan untuk memperbaiki nasib rakyat.
Ia kemudian bertemu dengan Douwes Dekker dan bersama Suwardi Suryaningrat mereka mendirikan Indische Partij pada tahun 1912. Cipto kemudian pindah ke Bandung dan aktif menulis untuk harian De Express. Menjelang 100 tahun kemerdekaan Belanda dan Prancis, Cipto Mangunkusumo dan Suwardi membentuk Panitia Bumiputera sebagai reaksi atas rencana Belanda untuk merayakannya di Indonesia.
Aksi Komite Bumi Putera mencapai puncaknya pada 19 Juli 1913, ketika harian De Express menerbitkan artikel Suwardi Suryaningrat berjudul “Ais ik Nederlands Was” (Seandainya Saya Orang Belanda). Cipto kemudian menulis artikel yang mendukung Suwardi keesokan harinya. Akibatnya, pada 30 Juli 1913, Cipto Mangunkusumo dan Suwardi dipenjara. Melihat kedua rekannya dipenjara, Douwes Dekker menulis artikel di De Express yang menyatakan bahwa keduanya adalah pahlawan. Pada tanggal 18 Agustus 1913, Cipto Mangunkusumo bersama Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker diasingkan ke Belanda.
Selama di Belanda, kehadiran mereka membawa perubahan besar bagi Indische Vereeniging, sebuah organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda yang semula bersifat sosial menjadi lebih politis. Konsep Hindia bebas dari Belanda dan pembentukan negara Hindia yang diperintah oleh rakyatnya sendiri digagas oleh Indische Vereeniging. Karena alasan kesehatan, pada tahun 1914 Cipto Mangunkusumo diizinkan kembali ke Jawa dan sejak itu ia bergabung dengan Insulinde. Pada tanggal 9 Juni 1919 Insulinde berubah nama menjadi National Indische Partij (NIP).
Pada tahun 1918, pemerintah Hindia Belanda membentuk Volksraad (Dewan Rakyat). Cipto Mangunkusumo dipilih sebagai anggota oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda mewakili seorang tokoh kritis. Sebagai anggota Volksraad, sikap Cipto Mangunkusumo tidak berubah. Melihat kenyataan tersebut, pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1920 mengusir Cipto Mangunkusumo ke luar Jawa. Cipto kemudian diasingkan lagi ke Bandung dan ditempatkan di bawah tahanan kota. Selama berada di Bandung, Cipto Mangunkusumo kembali membuka praktik dokter dengan bersepeda ke desa-desa. Di Bandung pulalah Cipto Mangunkusumo bertemu dengan kaum nasionalis muda, seperti Sukarno, yang pada tahun 1923 membentuk Algemeene Study Club. Pada tahun 1927 Algemeene Study Club diubah menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Meski Cipto bukan anggota resmi Klub Kajian Algemeene dan PNI, Cipto tetap diakui sebagai kontributor pemikiran bagi generasi muda, termasuk Sukarno.

Pada tahun 1927, Belanda menganggap Cipto Mangunkusumo terlibat dalam upaya sabotase sehingga dibuang ke Banda Neira. Di pengasingan, asmanya kambuh. Ketika Cipto Mangunkusumo diminta untuk menandatangani perjanjian bahwa ia dapat kembali ke Jawa untuk berobat dengan melepaskan hak politiknya, Cipto dengan tegas mengatakan bahwa lebih baik mati di Banda. Cipto kemudian dipindahkan ke Makasar, kemudian ke Sukabumi pada tahun 1940. Udara Sukabumi yang dingin tidak baik untuk kesehatannya, sehingga dipindahkan lagi ke Jakarta hingga Dokter Cipto Mangunkusumo meninggal pada tanggal 8 Maret 1943.

Demikian uraian singkat tentang Sejarah Lahirnya Kebangkitan Bangsa dan Sumpah Pemuda. Semoga ada manfaatnya.

READ ALSO :   KERJA SAMA DAN BUDAYA GOTONG ROYONG KERJASAMA DALAM BERBAGAI BIDANG KEHIDUPAN

Tinggalkan komentar